Selamat 5 Bulan Paramex-ku.

Saya jadi teringat tentang impian saya tempo dulu saat menjadi mahasiswa baru, ‘nanti setelah menjadi sarjana saya ingin mendaftar menjadi salah satu pengajar di Indonesia Mengajar’ satu tahun menjadi pengajar di desa terpencil, menjadi guru yang ditunggu kehadirannya dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk pendidikan anak-anak. Terdengar sangat menakjubkan dan luar biasa.IMG_4587

Saat ini pukul 18.15. Saya baru pulang ke rumah dan duduk di atas kasur. Kepala saya sakit dan dirumah tidak ada orang, saya membeli paramex dan dua botol yakult di warung ketika perjalanan pulang. Bukan, saya bukan ada di desa terpencil, tapi di kota besar. Saya bukan sedang menjadi relawan Indonesia Mengajar, tapi sedang menjadi guru les untuk anak-anak kota besar. Sederhananya, impian saya menjadi relawan memang tidak terlaksana, tapi sekarang saya bersyukur, sepertinya saya tidak terlalu kuat untuk itu. Baru seperti ini saja, bohong jika terkadang saya tidak ingin mengeluh. Saya jadi berfikir, bagaimana jika saya benar-benar menjadi relawan Indonesia Mengajar saat ini, apa yang sedang saya lakukan dan apa yang sedang saya rasakan. Bisa jadi, jika benar saya menjadi relawan Indonesia Mengajar saat ini saya sedang memikirkan rencana untuk lompat ke sungai di desa karena bosan atau lelah menjawab pertanyaan anak-anak. Boro-boro jadi relawan di desa, di Bekasi saja, paramex selalu ada di tas.

Benar, seperti hari ini saja anak-anak tidak peduli sakit di kapala saya saat mendampingi mereka belajar tadi, anak-anak cuma ingin saya yang bisa menjawab semua pertanyaan mereka, menimpali cerita mereka tadi di sekolah dan mengoreksi semua soal yang sudah mereka kerjakan. Hanya 10 anak, tapi rasanya seperti ada 100 pertanyaan.

Saya hanya ingin menuliskan, seberapa akhirnya saya bersyukur terlah diajarkan banyak hal oleh mereka. Sakit di kepala ini akhirnya harus saya abaikan, karena mereka hanya ingin saya yang baik-baik saja. Impian menjadi relawan Indonesia mengajar ternyata terlalu besar untuk saya, percobaan menjadi relawan sekecil ini saja saya masih sering sakit kepala.  Dan ternyata sudah genap 5 bulan dari pertama kali saya melihat dan berkenalan dengan mereka, ternyata, mereka sudah berhasil mengalahkan rasa sakit kepala saya hari ini.

Tulisan ini sepertinya ambruadul, sama seperti kepala saya sekarang, intinya, sepertinya saya jatuh cinta dengan mereka. Terimakasih kalian telah mengabulkan impian saya, setidaknya tidak perlu di desa terpencil saya belajar, lewat kalian saja saya tahu, bahwa sakit kepala memang tidak harus dirasa, karena dibutuhkan kalian adalah obatnya.  Tapi tidak lupa saya ingin mengucapkan terimakasih untuk pencipta paramex dan teman-temannya di dunia ini. Selamat 5 bulan!

IMG_4588

Advertisements

Kembali ke Notebook.

Saya adalah pelupa garis keras, padahal udah berusaha banget nginget-nginget tapi entah kenapa setelah itu lupa lagi lupa lagi. Menyadari kekurangan tersebut, saya akhirnya membiasakan untuk menulis di notebook apa aja yang saya perlu ingat, kayak apa aja yang harus saya beli, jadwal saya seminggu kedepan, catatan pengeluaran sampai nomer telfon dokter semuanya ada di notebook. Sering ada orang yang kaget, masih aja saya ngeluarin notebook dari tas kalo ada sesuatu yang harus dicatat mendadak, padahal jaman sekarang pasti orang lebih milih mencatat di hp dibandingkan repot-repot bawa notebook.

Buat saya, notebook lebih efektif dibandingkan dengan hp, selain karena notebook gak pernah lowbat saya juga tidak punya power bank sampai detik ini dan batre hp saya yang udah 4 tahun ini sudah melemah kekuatannya jadi sering banget disaat-saat mendadak dan mendesak saya butuh melihat catatan atau mencatat tapi gara-gara hp lowbat saya jadi ribet sendiri.

Saya selalu memilih notebook ukuran kecil yang sebesar telapak tangan, jadi bisa masuk ke tas mana aja, apalagi saya suka banget gonta-ganti tas mulai dari sling bag yang kecil banget sampai tas segede badan.

Processed with Snapseed.
Beli di Togamas Dieng, Rp 10.000

Notebook terakhir yang saya beli bulan September lalu sudah hampir penuh, setelah saya baca ulang ternyata isinya benar-benar ‘apa aja ada’. Ternyata membiasakan membawa notebook kemana-mana sangat membantu saya yang pelupa, setidaknya meminimalisir keribetan saya karena kelupaan nantinya.

Processed with Snapseed.

Processed with Snapseed.
beneran ‘apa aja ada

Kemudian di awal tahun saya mencoba membulatkan tekad saya untuk mempunyai planner di tahun 2018 yang saya alih fungsikan menjadi buku catatan harian saya setiap hari, isinya tentang apa saja yang saya lakukan selama satu hari, catatan singkat total pengeluaran dan pencapaian saya selama satu hari (walaupun masih suka bolong-bolong ngisinya alias ngerapel beberapa hari karena lupa juga).

Processed with Snapseed.
Beli di Typo Malaysia, RM 50.00

Setelah notebook dan planner, ada satu lagi yang baru saya beli di Miniso hari Senin kemarin, sumpah ini notebook yang saya cari-cari, halamannya polos, kertasnya tebal, ukurannya pas dan covernya super gemas. Harganya cuma Rp 49.900, super terjangkau! Saya namakan ‘Buku Sakti Cabe’. Notebook ini buat saya nulis semuanya yang harus saya lakukan untuk memajukan hidup, asik, alias buat rancangan apa aja yang saya mau lakuin kedepannya, soalnya saya sering coret-coret di sembarang kertas terus pas dicari lagi kertasnya udah gak tau kemana (ya lagi-lagi karena saya pelupa).

FullSizeRender 243
Notebook warna pink, belinya di Miniso Malang City Point, Rp 49.900

Sejauh ini, notebook dan planner sangat membantu saya untuk menjadi Cabe yang sedikit lebih baik. Saya jadi belajar untuk lebih disiplin kepada diri saya sendiri dan berusaha untuk komitmen buat rajin menulis tiap malam, saya seperti merasa ‘ada pr’ yang harus saya kerjakan. Semoga ‘Buku Sakti Cabe’ juga bisa membantu untuk saya kedepannya, mari kita lihat!

Btw siapa yang masih suka nulis notebook juga? Cerita dong pengalamannya selama menjadi penulis di notebook sendiri supaya saya makin semangat hehehe, Good night!

Istirahat Januari : Umroh di Awal Tahun untuk Awal yang Baik.

Masih kaget, masih gak nyangka dan masih terkagum.

IMG_3901

Perasaan sebelum berangkat entah kenapa berbeda seperti saya sebelum berangkat ke Jepang, bisa dibilang memang sama-sama excited tapi waktu ke Jepang dulu saya lebih ke penasaran banget disana kayak gimana kalo umroh sekarang ini saya lebih ke takut disana gak maksimal ibadahnya karena takut mens dan masih percaya gak percaya kalo secepet itu Allah mengundang saya, h-7 sebelum ke Jepang kerjaan saya pasti nonton vlog orang-orang yang jalan-jalan di Jepang tanpa bosan, sibuk ngecek instagram orang yang abis liburan ke Jepang dan packing dengan super duper deg-degan. Sedangkan h-7 sebelum perjalanan saya untuk umroh, saya malah sibuk dengan kerjaan dan sama sekali lupa buat packing, saya baru benar-benar buka koper untuk packing h-2 sebelum berangkat, bahkan saya tidak sempat ikut manasik yang diselenggarakan pihak travel sehari sebelum keberangkatan di Hotel Siti. Jadilah manasik saya lakukan dirumah alias menggunakan penjelasan singkat Abi lewat tv siaran langsung dari Masjidil Haram, Abi menjelaskan dari mana saya memulai sa’i, apa doa yang harus saya baca selama disana, apa yang tidak boleh saya lakukan selama sudah berniat umroh dan selesai dimana ibadah umroh saya, dengan bekal apa adanya saya percaya pasti nanti juga bisa sendiri disana apalagi ada pembimbing yang bisa saya tanya-tanya dan ada teman saya yang sudah beberapa kali pergi umroh.

Niat saya berangkat istirahat kali ini memang untuk mere-start kembali hidup. Sejujurnya akhir-akhir ini saya selalu merasa ada yang salah dari diri saya, mulai dari sikap saya ke orang lain, cara bicara saya, pikiran saya yang mulai semrawut jadi menyalahkan banyak pihak dan hati saya yang ragu-ragu setiap kali mengambil keputusan. Sepertinya saya butuh menyelesaikan semuanya dengan sebuah perjalanan yang membuat saya menyingkirkan perasaan bersalah yang menggunung terhadap diri sendiri ini. Umroh ternyata adalah pilihan yang sangat-sangat tepat.

Tanggal 17 Januari saya berangkat dari bandara Soekarno Hatta diantar oleh Umi karena Abi harus kerja. Rombongan saya ternyata sudah menunggu cukup lama kedatangan saya, karena sudah waktunya check-in dan saya tidak kunjung datang karena terjebak macet. Perkenalan singkat dengan anggota rombongan yang rata-rata adalah orang padang (maklum yang punya travel orang padang asli asliii banget) dan ada sekitar 5 orang saudara Latifah yang akan ikut. Pesawat saya berangkat pukul 4 sore dan waktu sudah menunjukan pukul 2, Umi berpamitan dengan pemilik travel dan anggota rombongan lainnya, saat itu Umi meneteskan air mata terharu ketika saya berpelukan sebelum Umi pulang, katanya Umi sedih melihat saya harus pergi sendirian kesana, tapi Alhamdulillah saudara Latifah sangat baik menyambut saya dan meyakinkan Umi bahwa semuanya akan baik-baik saja (padahal saya sudah sering pergi jalan-jalan ke luar kota sejak smp kelas 1 dan jarang banget Umi nangis kalo saya pamit pergi, tapi kata Umi kali ini beda, bukan cuma main, tapi Kakak mau ke Baitullah, ibadah).

Kota pertama yang saya kunjungi adalah Madinah baru kemudian Mekkah. Benar seperti yang Umi dan Abi bilang, Madinah terasa lebih sejuk, terasa lebih hangat dan orang-orangnya lebih ramah-ramah. Saya menginap di hotel yang tidak begitu jauh dari Masjid Nabawi, namanya hotel Millenium Al-Aqeeq. Perjalanan ke Masjid hanya memakan waktu sekitar 5 menit, makanannya enak dan sangat Indonesia sekali rasanya, bahkan tempat makan untuk tamu Melayu dan Arab terpisah.

Masjid Nabawi ternyata sangat besar, ada puluhan pintu dan payung-payung besar di pelatarannya. Cuaca disana sedang dingin, tapi untuk pecinta suasana cloudy seperti saya, cuaca disana sangat sempurna.

IMG_3362

FullSizeRender 169Saya dan Latifah adalah anggota rombongan wanita termuda, kebanyakan anggota lainnya memang sudah berumur, jadi karena saya dan Latifah masih memiliki tenaga dan stamina yang lebih jadi kami lebih sering memilih pergi ke masjid berdua terlebih dahulu dan itikaf di masjid lebih lama.

IMG_3402Raudhah, tempat antara mimbar dan makam nabi, taman surga yang ada di dunia. Karpet hijau adalah tanda kita sudah berada di Raudhah, disana kita bisa berdoa sebanyak-banyaknya, insyaAllah akan mustajab. Bukan hanya makam Nabi Muhammad SAW, tapi ada makam dua sahabat Nabi disana, Abu bakar dan Umar. Untuk masuk ke Raudhah, kita bisa masuk lewat pintu 25 untuk akhwat dan masuknya lewat jam-jam yang sudah ditentukan, karena Raudhah tersebut ada di kawasan ikhwan jadi tidak bisa sembarangan, sehingga untuk ikhwan lebih bebas dibandingkan dengan akhwat.

FullSizeRender 170Saya mendapatkan ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, bayangkan jika kamu hanya menghabiskan waktu untuk ibadah, tidak perlu memperdulikan kerjaan, tidak perlu memperdulikan teman yang mengajak main atau merasa bingung harus melakukan apa karena bosan. Rutinitas di Madinah dan Mekkah sama, saya dan Latifah berangkat ke masjid sebelum qiyamulail dan pulang setelah syuruq, sarapan pagi, istirahat sebentar kemudian sekitar pukul 11 siang kami sudah bersiap berangkat ke Masjid untuk menyempatkan solat dhuha di Masjid dan pulang ketika sudah selesai solat dzuhur, setelah itu makan siang di Hotel dan istirahat, sebelum asar sekitar pukul 3 kami sudah berangkat ke Masjid untuk siap-siap solat asar dan diam di Masjid sampai selesai solat isya, setelah isya sekitar pukul 8 atau 9 kami pulang ke Hotel untuk makan malam dan benar-benar selesai sekitar pukul 10, baru kemudian kami istirahat dan memulai esok harinya dengan rutinitas yang sama. Bedanya ketika di Mekkah, kami menyempatkan untuk thawaf terlebih dahulu di pagi hari sebelum solat qiyamulail, sehingga kami harus berangkat ke Masjidil Haram lebih pagi dibandingkan saat di Masjid Nabawi.

IMG_3721

IMG_3896Saya bersyukur dengan segala kemudahan yang Allah berikan, saya diperkenalkan dengan orang-orang baik selama perjalanan umroh ini, saya sama sekali tidak merasa sendirian. Sekamar dengan Latifah dan Tante-tantenya membuat saya tidak asing lagi mendengar cara dan gaya bahasa orang padang bahkan beberapa kosakata sudah saya pahami karena sering sekali mendengar mereka berbicara satu sama lain, sangat menyenangkan mengenal mereka dan saya seperti mempunyai keluarga baru.

FullSizeRender 163Kekaguman saya tidak terhenti sampai hari terakhir saya di Mekkah, perpisahan dengan Ka’bah terasa sangat berat, seperti saya masih ingin lebih lama ada disini. Sepertinya saya masih ingin lebih lama lagi doa di multazam dan masih ingin berkali-kali sholat di Hijr Ismail.

Processed with Snapseed.

Benar kata orang, sekali kamu datang dan melihatnya kamu pasti ingin terus kembali, akhirnya saya sendiri tahu rasanya apa yang orang bilang. Sampai jumpa lagi dua masjid terindah, saya akan kembali kesana lagi, secepatnya.

 

2017 : When you let go, something magical happens. You give God room to work.

Note : Tidak bermaksud menyombongkan diri, hanya ingin berbagi. “Ketidakmungkinan akan menjadi mungkin, jika disertai doa dan usaha” Saya kira itu handa kalimat kiasan, tapi kemudian saya merasakan.

Awal bulan Februari 2017. Sepanjang jalan selama menyetir sendirian  untuk pertama kalinya (karena selama ini selalu ada yang nemenin) dari Jatinangor ke Bekasi saya merenung dan akhirnya saya memutuskan untuk ikut orang tua saya yang berencana Umroh bulan Februari atau Maret tahun 2017. Sampai di rumah saya langsung memeluk Umi dan bilang kepadanya niat saya untuk ikut serta, tapi ternyata tanggal berangkat tidak tepat dengan jadwal saya, tepat dua hari setelah hari keberangkatan saya ada acara di SMP saya dulu, kebetulan saya mendapatkan amanah untuk mengisi sebagai pembicara Talkshow tersebut bersama Kak Syifa (JilbabAfra). Saya ingin ikut namun kesempatan untuk menjadi pembicara ini tidak mungkin saya lewatkan karena saya sudah terlanjur menyanggupi saat terakhir kali di konfirmasi. Abi bilang sebaiknya memang saya pergi nanti saja, karena saya nantinya mempunyai waktu yang lebih fleksibel sedangkan Abi hanya bisa cuti pada tanggal tersebut, jadi saya mengurung niat saya untuk ikut. Bisa dibilang saat itu tabungan saya hanya pas untuk umroh saja, tapi karena umroh niatnya ibadah, saya yakin Allah pasti mengganti dengan yang lebih nantinya, tapi apa boleh buat, saya harus memilih antara dua hal yang sama-sama ingin saya ikuti. Akhir bulan Februari Abi dan Umi berangkat umroh dan saya pergi ke Bogor ditemani oleh sahabat saya. Sebelum kedua orang tua saya berangkat, saya menitipkan kertas dengan tulisan 10 keinginan saya, saya meminta tolong orang tua saya untuk mendoakan doa saya untuk setahun kedepan, dengan harapan tahun 2018 saya bisa berangkat umroh sendiri dan berdoa langsung disana.

Masya Allah. Allah memang sangat baik dan begitu mengerti hambanya. Seminggu setelah saya menitipkan doa kepada orang tua saya, salah satu doa dari 10 doa saya ter-ceklis. Saya ingin sekali beli kamera saat itu, kebetulan sejak duduk di bangku SMP saya ingin sekali kamera SLR yang pada jaman itu sedang hits-hitsnya, tapi Abi bilang itu bukan kebutuhan melainkan keinginan jadi masih bisa untuk ditahan. Waktu SMA saya juga sedang ingin-inginnya beli kamera karena masuk ke Eskul Jurnalistik yang hampir semua anggotanya punya kamera, tapi saya harus mengurungkan niat kembali karena Abi bilang itu masih belum kebutuhan. Hingga saya kuliah dan semester 7, niat saya untuk membeli kamera masih saya pendam karena belum merasa itu kebutuhan yang mendesak. Padahal saya sangat ingin membeli kamera untuk media saya  bisa menyimpan memori semasa hidup. Tapi sejujurnya satu tahun belakangan saya membutuhkan kamera untuk foto produk jualan saya agar hasilnya lebih bagus, lalu pelan-pelan saya menyisihkan uang untuk membeli kamera. Untuk niat pergi umroh kemarin dengan orang tua saya, niatnya saya ingin menggunakan uang tabungan saya membeli kamera itu namun ternyata Allah menyuruh saya untuk membeli kamera terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk menggunakan uang tabungan saya untuk membeli kamera pertama saya di temani oleh Jare di Kemang, setelah membeli saya masih shock (lebay si, tapi beneran shock haha kayak Wei!! akhirnya wei beli kamera wei!!), akhirnya kesampean juga beli kamera setelah ditahan bertahun-tahun.

Alhamdulillah, ternyata satu doa yang ter-ceklis setelah seminggu saya menitipkan doa tersebut di ikuti dengan doa-doa lainnya yang Alhamdulillah ter-ceklis juga di kemudian harinya, terus menerus dijawab satu persatu oleh Allah. Dari situ saya sadar, betapa berharganya doa, betapa mungkinnya harapan dan betapa indahnya ridho orang tua.

Laptop lenovo kecil hiram itu adalah elektronik baru yang pertama kali orang tua saya berikan kepada saya, saat itu mungkin Abi prihatin anaknya sudah 2 semester hidup tanpa laptop di Jatinangor, padahal tau sendiri hidup di dunia perkuliahan gak mungkin kalo gak pake laptop. Abi kemudian memberikan laptop ketika liburan akhir semester 2. Tapi tahun awal April 2017 ternyata laptopnya mati total, tidak bisa digunakan lagi, katanya karena penggunaan saya yang sembrono. Dari kecil, Abi dan Umi selalu membiasakan anak-anaknya untuk tidak meminta langsung kepada orang tua melainkan berusaha terlebih dahulu, boleh dengan menabung setengahnya atau dengan mencapai sesuatu terlebih dahulu baru dikabulkan keinginannya. Saat itu saya tidak begitu panik ketika laptop saya mati total, karena sebulan belakangan memang laptop itu sering mati tiba-tiba dan kebetulan awal april menjadi waktu wafatnya. Saya pulang ke rumah tanggal 6 April dan menceritakan kepada Umi dan Abi bahwa laptop saya sudah tidak bisa digunakan. Lalu saya menagtakan niat saya untuk membeli laptop baru yang memang sudah sangat saya inginkan haha, laptop yang dulu saya impikan ketika saya bisa masuk jurusan desain, bahkan umi menjanjikan untuk membantu saya membelinya jika saya berhasil masuk jurusan desain di universitas manapun. Takdir berkata lain, saya masuk jurusan Manejemen Komunikasi dan menurut Abi saya masih bisa menggunakan komputer rental selama satu tahun. Jelas Umi dan Abi tahu apa laptop yang saya inginkan setelah laptop lenovo pemberian mereka wafat, kemudian Abi dengan mudahnya mengizinkan saya untuk membeli laptop yang saya inginkan itu (jadi walaupun pakai uang sendiri, kami sekeluarga selalu terbiasa meminta izin dulu ke Abi baru beli). Tanggal 8 April 2017, saya di temani Umi membeli laptop di toko langganan sahabat saya Listi. Bayangkan, dua doa saya tercapai dalam jarak waktu satu bulan. Allah memang maha memudahkan jalan hamba-Nya.

Kemudian proses saya menyelesaikan skripsi yang awalnya sangat memusingkan terasa begitu mulus dan mudah, bulan Juli 2017 tepatnya 24 Juli 2017 saya sidang akhir dan lulus tepat sebelum waktu bayaran semster selanjutnya dua minggu lagi. Rencana setelah lulus memiliki workshop kecil untuk usaha kecil-kecilan saya juga Alhamdulillah tercapai bulan Agustus 2017, walau tidak besar tapi setidaknya ada tempat khusus saya untuk pergi ke kantor seperti yang sering saya ceritakan, saya ingin bisa berangkat ke kantor seperti orang-orang dan punya jam kerja khusus tanpa harus melihat tumpukan kanvas atau barang-barang cabe&art di kamar saya.

Pada tahun 2017 pula Allah seperti meminta saya untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya, satu doa yang saya panjatkan terkabul dengan ditunjukan yang sebenarnya, saya diminta ikhlas untuk pergi dari tempat yang pernah saya kira sebagai ‘rumah‘ dan kemudian ternyata hanya tempat ‘singgah‘. Akhir september 2017, kemudian Allah seperti menyediakan jalan saya untuk menggapai cita-cita, menjadi guru. Saya ingin sekali menjadi guru, seperti Umi yang sering kali menceritakan Liya kecil yang sangat gemar menyapa seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga dengan sapaan ‘anak-anak’ dan pura-pura menjadi guru mengajarkan matematika, padahal Liya kecil belum tentu tahu jawaban yang benar dari soal yang ia lontarkan. Liya kecil pasti senang, melihat saya yang sedang berusaha menjadi guru yang sabar. Ternyata benar, menjadi guru sangat sulit, sangaaaaat! Saya harus extraaa sabar menjawab pertanyaan setiap anak-anak yang bertanya, ditambah lagi, mereka punya nada bicara yang tinggi dan cenderung tidak sopan (karena mungkin keluarga mereka terbiasa menggunakan nada bicara tersebut). Mungkin disini Allah seperti menagih janji saya untuk berkomitmen dan mengukur tingkat kesabaran di ujian yang pernah saya impikan, “Nih kuat gak lo Be? katanya mau jadi guru“.

Selanjutnya beberapa list doa yang saya titipkan ke Umi terus-terus begitu mudah Allah jawab, Allah selalu menunjukan kuasanya dengan menjawab semuanya perlahan. Bulan Oktober dengan tiba-tiba saya memutuskan untuk ikut pergi ke Singapore dan Malaysia dengan dua sahabat saya sebagai hadiah kelulusan mereka berdua. Saya ikut untuk meditasi dan juga hadiah untuk saya yang dua bulan ini sudah sibuk lembur di workshop. Selanjutnya November, rencana liburan yang sudah saya rencanakan sejak bulan Februari akhirnya terlaksana, walaupun penuh drama mulai dari passport yang kurang nama dan pembuatan visa yang karena kecerobohan saya sendiri harus bolak-balik Lotte Shopping Avenue sampai 4 kali.

Penghujung tahun 2017, bulan desember kemarin Allah selalu berhasil membuat saya tidak berhenti terkagum. Kesempatan yang terlewatkan bulan Februari lalu ternyata digantikan oleh-Nya. Lewat jalan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, bahkan saya tidak merencanakannya sama sekali semua akan secepat ini, saya pikir ini seminggu kemarin saya melihat foto-foto teman saya yang berangkat ke tanah suci itu hanya mimpi saya yang entah kapan terkabulnya tapi ternyata Masya Allah, semuanya terasa mudah dan cepat. Awalnya saya hanya bercanda dengan sahabat saya Latifah, tapi ternyata dia juga punya niat yang sama dengan saya dengan tujuan yang sama pula (hehehehe) prosesnya hanya sekitar satu minggu saya akhirnya dibantu oleh orang tua Latifah untuk mempersiapkan semuanya sebelum mendaftar di travel milik tantenya Latifah, tadinya Jare yang akan menemani saya untuk pergi tapi ternyata ia ditakdirkan untuk mempersiapkan pernikahannya terlebih dahulu. Sedangkan saya, ingin sekali berangkat ke tanah suci sebelum saya menikah nanti, setidaknya saya sudah merayu Allah dengan semaksimal mungkin yang bisa saya lakukan, baru nanti saya menikah dan pergi dengan suami (aamiin).

Tahun 2017 penuh dengan cerita, penuh dengan doa dan penuh dengan harapan. Benar seperti yang Umi dan Abi selalu bilang sejak Liya kecil, kalo kakak yakin pasti bisa dan Allah pasti punya jalan-Nya. Terima kasih untuk tahun 2017 dan terima kasih atas pelajaran penuh untuk bersyukur di tahun yang amazing kemarin. Barakallah, selamat datang 2018.

 

2017 : When you let go, something magical happens. You give God room to work.

101 Pelajaran : Lebih berharga dari uang dan jabatan.

Pernah dengar dengan cerita orang yang meninggalkan pekerjaannya untuk passionnya? Bagi saya, Abi adalah contoh nyatanya.

Hari ini saya dan Umi menemani Abi mengajar di kantor lamanya, iya, kantor lamanya. Abi lulusan STAN dan sekitar 17 tahun menjadi pegawai di  Kementerian Keuangan. Namun sekarang Abi memilih berhenti berkerja di struktural dan sedang mengejar cita-citanya yang dulu tertunda.  Abi suka berbicara didepan umum, saya tahu betul dari cahaya matanya ketika berbicara. Beliau pernah cerita, tentang cita-citanya menjadi Pak Guru, tentang cita-citanya menjadi Psikolog dan cita-citanya masuk Universitas Airlangga kala itu. Tapi takdir berkata lain ketika beliau akhirnya masuk ke jurang itu tanpa sengaja, kemudian menjadi PNS seperti impian banyak orang kurang lebih 25 tahun lalu.

Sekarang saya ada di masjid kantor Abi yang dulu sering saya kunjungi saat saya masih belum masuk sekolah dasar, saya ingat betul saat masih berlari-lari untuk membeli es-krim di koperasi perbendaharaan dengan cat pintu warna biru itu (dan sekarang masih berwarna biru). Bedanya, bangunan disini semua terasa lebih kecil untuk saya, taman yang dulu saya kagumi keindahannya kini sudah mulai tidak terurus, padahal ini kantor yang megang uang negara loh. Singkatnya, saya ternyata meletakkan memori disini, apalagi Abi, yang kemudian memilih menjadi pengajar, bukan lagi pegawai disini.

Abi saat ini sedang mengajarkan tentang pelatihan kenaikan jabatan untuk senior-seniornya dulu di kampus, beliau memang dikenal lihai memberikan tips dan trik untuk bisa lulus tes semacam itu, padahal jika bicara jabatan, mereka jauh lebih tinggi tingkat jabatannya dari Abi, apalagi dengan keputusan Abi yang memilih menjadi dosen bukan lagi pegawai struktural, jabatan Abi otomatis terjun payung begitu pula gajinya. Saya lihat betul, senior-senior Abi sangat menghormati ketika Abi datang, membawakan tasnya, bahkan tidak berhenti tersenyum. Sedangkan mungkin jika Abi masih berkerja disini dan menjabat di struktural, bisa jadi mereka tidak pernah mengenal nama panjang Abi.

Umi selalu mengatakan pada saya “Abi suka kak jadi dosen, liat deh Abi selalu begadang cuma untuk buat soal, padahal bisa pake soal yang lama“, sifatnya yang perfeksionis memang sangat mendarah daging, Abi selalu mengoreksi sendiri jawaban murid-muridnya, Abi selalu membaca ulang materi pembelajaran dan Abi selalu memilih membuat soal baru setiap ujian. Sampai akhirnya, Abi sekarang berhasil mengisi pelatihan-pelatihan untuk senior-seniornya, yang seharusnya seluruhnya adalah atasan Abi di kantor. Awalnya selalu gratis, dengan alasan tidak enak karena yang memintanya selalu bos-bos besar mulai dari petinggi Kemeterian Keuangan sampai TNI, tapi karena desakan dan bisikan teman-temannya akhirnya belakangan ini, Abi cukup berani mengatakan tarifnya untuk mereka yang meminta Abi membagi ilmunya.

Itu kemudian yang memberanikan saya memilih untuk tidak berkerja di kantoran dan memilih menekuni passion saya, lewat contoh nyata itu saya belajar tentang ketekunan yang membuahkan hasil, juga tentang senyum yang lebih berharga dari uang dan jabatan.

Story of my life : Bisakah kita memulai tanpa menyimpulkan?

Pelajaran hari ini,

jangan pernah menyimpulkan sebelum kamu mengenal seseorang.

Ternyata begini rasanya dipukul tanpa pernah memukul, sakit. Rasanya saya ingin menunjukan kepada beliau bahwa apa yang beliau simpulkan tidak benar, tidak seperti yang beliau bayangkan dan bukan yang seperti apa yang beliau fikirkan sebelumnya. Sakit sekali, dianggap tidak pantas disaat belum memulai peperangan. Entah apa yang beliau bayangkan tentang saya, sampai saya dipaksa mundur sebelum perang itu dimulai. Mungkin ada penjelasan yang salah atau ada perkiraan yang keliru, yang jelas, lewat beliau saya belajar satu hal, bahwa jangan pernah menilai seseorang dengan takaran yang kita buat sendiri, bisa jadi kita memang mempunyai gelas ukur yang berbeda.

Saya ingat betul, beliau bahkan seolah-olah tidak mengizinkan saya menatap wajahnya, seolah saya cukup hina untuk berbicara dan menjelaskan banyak hal di depannya, sedih sekali. Padahal agama jelas-jelas menerangkan tentang baiknya berprasangka baik, tentang kewajiban seorang muslim menghargai muslim lainnya dan bagaimana Muhammad selalu memandang tinggi orang yang mau berusaha.

Lewat beliau saya belajar, tentang saya yang masih sering kali mengukur dan menyimpulkan lewat cara pandang saya sendiri bahkan selalu membandingkan. Saya tahu betul perihnya, sayapun belum tahu kapan sembuhnya. Saya tidak ingin orang lain merasakan ini, merasakan dinilai tanpa pernah mengikuti ujian. Suatu hari, jika saya ada waktu menjelaskan, saya ingin menerangkan bahwa saya tidak pernah ingin menjadi seperti saya yang ada di kepala beliau. Seandainya kami diberi waktu untuk kembali menyimpulkan, bisakah Ibu melihat saya seperti layaknya gadis lainnya? Dan bisakah saya tidak takut untuk sekedar mengawali pembicaraan kita?

Istirahat November : Jepang! #1

DSCF1949.JPG

Super sekali! Dua kata yang menggambarkan pengalaman pertama saya ketika berkunjung ke Jepang. Bener-bener gak habis pikir kenapa dulu saya membenci kelas bahasa jepang, alhasil saya tidak mengingat banyak kalimat-kalimat berguna yang seharusnya saya bisa gunakan di Jepang. Sepertinya Jepang berhasil membuat saya ingin kembali dan kembali lagi, waktu seminggu sangat singkat dan terasa cepat sekali, bahkan mungkin butuh waktu satu bulan di Jepang khusus untuk jalan-jalan supaya puas seperti dua orang kakak beradik sosialita yang saya, Abel dan Jare temui saat perjalanan pulang dari Gotemba Premiun Outlet ke stasiun untuk pulang ke Tokyo. Kami berangkat tanggal 23 November dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta dengan waktu keberangkatan jam 23.10 wib dan sampai besok pagi sekitar pukul 9.00 waku Jepang. Kami bertiga super exciteed, karena ini adalah musim semi pertama saya! Menurut ramalan cuaca, di Jepang saat itu suhunya sekitar 10 derajat, jadi kami sudah menggunakan long john terlebih dahulu, jadi ketika sampai tidak perlu ribet mencari jaket.

DSCF1961.JPG

Sampai di Haneda kami menukar receipt JR Pass yang kami beli di Jalan Tour (Harganya sekitar 3 juta sekian waktu itu kami belinya, dibawah 3,5) ke tempat penukaran JR Pass, selanjutnya kami diberikan kartu dengan gambar bunga sakura yang terdapat nama jelas, nomer passport dan tanggal berlakunya JR Pass tersebut. Untuk penggunaannya sangat mudah, untuk menaiki kereta dengan jalur JR, kita tinggal masuk dari gate yang paling ujung dekat dengan petugas stasiun lalu menunjukan kartu JR Pass tersebut lalu dipersilahkan masuk, tidak perlu tap atau memasukan kartu tersebut ke mesin (karena gak bisa juga haha). Kami langsung menuju ke Nippori Station yang dekat dengan penginapan pertama kami, U & K Hostel.

Letak hostel ini tidak jauh dari stasiun, hanya berjalan sekitar 500 km. Banyak toko-toko di sepanjang jalan kami menuju hostel dan yang pasti lokasi hostel ini tidak jauh dari sevel. Biaya hostel pertama ini 16.000 yen untuk tiga malam dan untuk tiga orang. Kamarnya seperti dorm, terdapat empat kasur dan ada pilihan mixed, women atau men. Untuk kamar mandinya terletak di lantai dua sedangkan kami kami terletak di lantai tiga, lantai pertama hanya untuk lobby jadi cukup perjuangan membawa koper untuk sampai di lantai tiga.

DSCF1984

DSCF2051

Hari pertama kami habiskan dengan berjalan-jalan di Shibuya, mungkin cuma kami yang menghabiskan hari pertama dengan belanja, yang jelas-jelas akan menambah bawaan untuk beberapa hari ke depan.

DSCF1980Kami berkeliling di Shibuya dengan tujuan pertama toko kosmetik, toko kamera dan toko sepatu, selebihnya kami hanya melihat-lihat dan menikmati keramaian Shibuya hingga pukul 21.00 waktu Jepang.

DSCF2070

Setelah berkeliling Shibuya kami menyempatkan untuk mampir ke Tokyo Tower, sekedar untuk menghilangkan rasa penasaran dan mengugurkan kewajiban sebagai turis yang datang pertama kali ke Tokyo. Biasa saja, mirip dengan tower biasanya haha, kami beristirahat sebentar lalu kembali pulang ke hostel.

DSCF2089Karena masih hari pertama kami memutuskan untuk tidak pulang terlalu larut karena hari kedua kami akan berjanjian dengan dua teman kami yang juga sedang berlibur di Jepang (gak janjian loh, kebetulan ternyata tanggal kita gak jauh beda dan baru taunya pas sama-sama udah beli) dan dengan satu teman SMP saya dan Jare yang berkuliah di Jepang untuk pergi ke Ueno Park, Ameyoko market, Harajuku (takeshita street), dan terakhir makan Genki Sushi di Shibuya.

IMG_2043.JPG

DSCF2214Awalnya kami janjian jam 7.00 pagi, tapi apa boleh buat, kasur hostel terlalu sulit ditinggalkan, kami baru jalan sekitar pukul 9.00 pagi dan sampai di Ueno Park sekitar pukul 10.00, kami menunggu teman kami baru akhirnya masuk ke dalam tamannya. Setelah berkeliling di area taman yang tidak kecil ini, kami janjian dengan satu teman saya dan Jare selanjutnya, namanya Ulfah, dari SMP dia memang terkenal pintar jadi tidak heran akhirnya dia mendapatkan beasiswa di Jepang dengan jurusan kimia. Kami menuju Ameyoko market untuk mencari makan siang lalu kemudian pilihan jatuh kepada ayam panggang turki yang berlabel halal, kalo ditanya rasanya ya enak-enak aja soalnya kita laper dan belom pernah makan duduk semenjak sampai di Jepang, yang jelas memang makanan di luar negeri terasa lebih hambar dibanding makanan Indonesia yang kaya rempah.

DSCF2267DSCF2265

Ameyoko market cukup padat pengunjung dan tidak begitu besar jalannya. Untuk toko-tokonya hampir mirip seperti di ITC bedanya ini di sepanjang jalan, harganya terjangkau tapi tetap ada brand-brand bagusnya.

DSCF2300Setelah dari Ameyoko kami menuju ke Asakusa Tample. Kemudian kami menyempatkan untuk mampir sebentar di Harajuku atau Takeshita Street, karena sudah pukul 18.30 beberapa toko-toko sudah ada yang tutup.

DSCF2452DSCF2456Untuk makan malam, kami memilih Genki Sushi di Shibuya, harganya rata-rata 100 yen per porsinya atau perpiringnya dan saya menghabsikan 8 porsi hehehe.

DSCF2465DSCF2470Antrian Genki Sushi cukup ramai, jadi kita harus berbaris baru kemudian diberikan nomer meja oleh pelayan, ada sekitar 90 kursi disini dan makannya sendiri-sendiri jadi gak lama nunggunya, hanya sekitar setengah jam menunggu kami sudah dapat tempat duduk. Hari kedua selesai, kami lalu  berpamitan dengan Ben, Mayang dan Ulfah.

DSCF2481

Istirahat November : So Excited!

Hari ini tepat dua hari sebelum saya pergi ke Jepang, untuk pertama kalinya dalam hidup saya duduk di pesawat selama lebih dari dua jam. Saya jadi ingat betul disaat kali pertama saya membeli tiket pesawat dengan uang saya sendiri ke Malang, mengharukan, saya duduk di samping kaca pesawat dan menangis. Jujur, saat itu adalah kali kedua saya naik pesawat setelah saat Liya kecil berumur 6 tahun pergi dari Lampung ke Jakarta dengan waktu tempuh hanya sekitar 30 menit, Liya kecil bahagia naik pesawat untuk pertama kalinya. Kata Abi, biar kamu tau rasanya naik pesawat dan nanti bisa naik pesawat sendiri. Benar, 14 tahun setelah itu saya akhirnya bisa naik pesawat lagi, dengan uang sendiri. Kemudian tidak lama, saya kembali menangis ketika duduk di pesawat, itu adalah ketiga kalinya saya naik pesawat dan pertama kalinya saya naik pesawat gratis karena undangan MC, terharu, sangat! Saya kemudian menuliskan pesan singkat untuk kedua orang tua saya dan berhasil membuat air mata sepanjang perjalanan, kemudian bentuk syukur yang tidak bisa dituliskan saya panjatkan kepada Allah sepanjang perjalanan menuju Padang saat itu.

Sebelumnya perasaan saya biasa saja, sampai akhirnya satu minggu belakangan saya menjadi sangat excited dan menunggu-nunggu tanggal 23 November 2017. Bukan cuma tentang perjalanan panjang di dalam pesawat, ini adalah musim gugur pertama kalinya untuk saya selama 22 tahun hidup di dunia dan akan menjadi pertama kalinya saya menggunakan coat dengan suhu 10 derajat di pusat kota, sangat tidak sabar rasanya merasakan semua itu.

Setelah membeli tiket bulan Februari lalu, saya menyisihkan hasil jualan saya dikit demi sedikit untuk akhirnya terkumpul untuk bekal di Jepang, tabungan yang akan saya gunakan sebagai bekal beli tiket wahana, uang makan disana, membeli JR pass dan sisanya untuk belanja, walaupun pada akhirnya uang itu harus digunakan untuk tutup lobang dan gali lobang karena gunakan untuk membeli dan membayar kebutuhan Cabe&Art, entah harus restock kardus yang kosong, modal beli bunga untuk pengembangan usaha, dan bayar sewa tempat. Percayalah, rekening tabungan saya lebih sering keluar masuk dibandingkan tetap diam seperti rekening tabungan orang lain. Tiba-tiba sering kali banyak pengeluaran yang terpaksa memang harus saya keluarkan padahal sebelumnya tidak ada di catatan pengeluaran, mau tidak mau saya harus mengambil uang tabungan yang sudah saya sisihkan untuk ke Jepang. Sampai sempat satu bulan yang lalu, saya berniat untuk membatalkan rencana ke Jepang ini, karena melihat keuangan saya yang semakin menurun dan pengeluaran yang terus saja menodong saya, sepertinya sangat tidak mungkin, lebih baik kehilangan tiket ke Jepang dibanding saya tidak bisa kemana-mana di sana, itu pikir saya. Alhamdulillah, Allah memudahkan saya untuk kembali mengumpulkan dan menyisihkan uang. Tabungan saya ternyata cukup untuk menutup kebutuhan saya untuk ke Jepang, akhirnya saya bisa membeli JR pass, membeli tiket wahana dan membayar sewa hotel.

Karena ini adalah suhu 10 derajat pertama saya di pusat kota, saya tidak punya pakaian mendukung untuk ada di cuaca demikian dan kondisi demikian, lagi-lagi mau tidak mau saya harus membeli baju musim dingin, setidaknya satu atau dua untuk menghangatkan. Karena pekerjaan dan pendapatan saya tidak tetap, saya harus menyisihkan sebelum saya memutar uang dengan membeli stock kanvas, lumayan, saya mendapat dua coat yang cukup hangat untuk digunakan dengan warna yang netral.

Begitulah singkatnya perjuangan saya sampai akhirnya siap untuk berangkat ke Jepang dua hari lagi. Dengan bekal baca blog dan vlog orang selama satu minggu terakhir cukup membuat saya membayangkan sudut kota Tokyo yang harus bisa saya ambil gambarnya dengan bagus menggunakan kamera analog pemberian Mutia.

Mungkin sederhana untuk mereka yang biasa liburan ke luar negeri hanya dengan menceritakan ke orang tuanya rencana tempat yang akan mereka kunjungi berserta budget yang mereka butuhkan disana, bisa dibilang cerita  saya ini menjadi begitu receh dan tidak menarik untuk mereka, jelas, cara kita mencapainya berbeda bukan? Sebelumnya, saya takut untuk sekedar bermimpi. Saya tahu betul akan butuh banyak usaha untuk pergi ke luar negeri, entah pekerjaan apa yang harus saya lakukan untuk mempunyai tabungan yang cukup atau sebanyak apa buku yang harus saya baca agar menjadi orang pintar yang bisa ke luar negeri, mimpi saya tidak setinggi orang-orang yang saya lihat fotonya di internet atau tv saat itu, saat saya masih kecil dan belum mempunyai Cabe&Art.

Pengalaman satu bulan yang lalu pergi istirahat di negara orang benar-benar berhasil mengubah pandangan saya, mengubah urutan mimpi yang sebelumnya hanya berani saya tulis di wallpaper hp, mimpi yang sayapun tidak tahu kapan tercapainya. Sederhananya, tulisan ini hanya ingin menyampaikan ketidakmungkinan yang menjadi mungkin, Jepang yang terdengar jauh dan mahal menjadi mungkin setelah delapan bulan yang sulit. Sampai jumpa Jepang dua hari lagi! I’m so excited!

FullSizeRender 33

101 pelajaran : Sombong adalah proses menuju bersyukur.

Semua pasti setuju kalo bersyukur itu sangat amat gak gampang, banyak banget alasan buat akhirnya lagi-lagi kita milih buat gak bersyukur. Begitu juga saya disini yang masih lemah-lemahnya, saya sering sekali ditampar oleh kisah nyata yang bahkan ada di depan mata, harusnya saya tidak punya alasan lagi untuk tidak bersyukur. Saya manusia biasa yang kemudian membandingkan, menengok ke atas atau melirik sekitar.

Percayalah, proses memang sulit. Gak ada yang gampang dari semua yang berawalan proses atau semua ceramah yang berlandaskan proses juga gak pernah enak di denger, pasti berasa lama banget dan membosankan kemudian dalam hati “Lo ngomong doang ah“.Apalagi proses menuju bersyukur, trust me, gak semua orang milih buat menjalani proses dengan baik, kebanyakan menyerah dan ambil jalan pintas. Saya juga bagian dari mereka yang masih dalam proses, karena saya tau, semuanya gak cuma harus dijalanin tapi disyukurin. Semenjak lulus, saya selalu memberi pelajaran diri saya untuk menerapkan satu hal dan cuma boleh nunjukinnya di kamar, setelah challage ‘gak gampang marah’ (jadi cuma boleh marah di kamar) saya saat ini sedang menjalani challage ‘harus bersyukur!’. Challage ini berhasil membuat saya nangis sendirian jam 9 malem lebih sering dari challage sebelumnya, karena ternyata sulit banget chooy!

Setelah saya mencoba mengenal diri sendiri biar kayak orang-orang keren di luar sana, alasan terbesar gak bersyukur saya kebanyakan memang karena saya selalu membandingkan. Saya liat si A sekarang udah begini jadi kepengen begini juga, menyalahkan waktu kenapa dulu gak pernah jadi si B yang suka begitu, dan seterusnya penyesalan yang bermuara menjadi hilangnya rasa syukur yang pernah saya tanam. Binasa begitu saja, semudah itu. Kemudian saya mencoba membangunnya lagi, semua rasa yang muaranya gak nyenengin itu, “gak boleh nih gak boleh gue gak boleh jadi orang yang selalu menyalahkan diri sendiri kayak gini“. Mungkin bukan cuma saya yang dalam empat bulan belakangan berubah menjadi pemikir keras dan tiba-tiba pengen hilang dari permukaan, cuma buat nunjukin suatu saat kalo saya muncul, berarti saya sudah benar-benar siap untuk muncul.

Tapi salah besar bung, menghilang hanya membuat semakin tenggelam, percayalah.

Saya mencoba tetap muncul, coba tetap menunjukan bahwa saya sama dan setara dengan mereka, semua cuma masalah timezone yang berbeda. Kebetulan saya punya teman yang menurut saya sekarang dia ada dititik dimana dia adalah panutan teratas saya untuk menjadi ‘cewek super independent yang sayang 1000% sama diri sendiri’, semua yang dia lakuin kata terimakasih kedua setelah untuk Tuhan adalah untuk dirinya sendiri, seberapa dia berhasil selalu memuji dirinya sendiri dan menganggumi dirinya sendiri baru akhirnya mengucapkan terimakasih untuk orang sekitarnya. Mungkin itu yang saya lewatkan, rasa syukur saya hilang karena penyesalan dan hobi ngehakimin diri sendiri yang selalu saya lakukan terus menerus. Sombong (dalam arti bangga dan sayang sama diri sendiri bukan sombong negatif yesh) itu ternyata cara paling ampuh untuk setidaknya kita belajar untuk terus punya hal yang disombongkan di mata orang lain, jadi kita terus mencari hal baru, memperluas yang ada dan menambah yang kurang. Jadi pola pikirnya, bukan jadi nyinyir karena ngeliat si A udah dapet something terus ngomongin tapi diem aja tetep main hp di kasur. Pola pikirnya diubah jadi bete ngeliat si A yang ternyata sekarang udah ngaji setiap hari tapi kita belom, akhirnya pengen kayak gitu juga. Bersyukurkan jadinya? Berkat si A yang rajin ngaji, kita jadi pengen ngaji juga.

Lingkungan kuliah yang heterogen ternyata berhasil membantu saya untuk sadar, bahwa sombong itu gak selamanya hal buruk karena dengan ngeliat si A yang sombong pasti dong kita jadi pengen kayak si A, bukan iri loh ya, tapi membenahi diri hingga akhirnya diri ini bisa layak untuk dibanggakan bukan cuma di mata manusia tapi di mata Allah, selama itu gak buat kita menjatuhkan, memojokan, mengecewakan dan memberikan dampak negatif untuk sekitar. Singkatnya, saya mengaitkan antara proses menuju bersyukur dengan sebuah ‘kesombongan‘, emang sih kedengerannya aneh dan bertolak belakang, tapi ternyata gak salah kok. Karena saya yakin, orang yang bangga dengan dirinya yang sekarang ini yang dia liat setiap hari di kaca adalah mereka yang paling bersyukur atas semuanya yang dia punya.

Jadi kesimpulannya, proses menuju bersyukur bisa dengan menjadi si sombong yang berakhlak mulia (asikkk).

Blessed, 22.

Entah bagaimana saya menjelaskannya, terimakasih untuk sekedar ada dan membuat doa singkat menjadi begitu berharga. Bagaimanapun caranya, terimakasih sudah membuat senyum kecil di wajah saya untuk memperingati berkurangnya umur yang Allah berikan, segalanya menjadikan saya merasa hidup dan beruntung pernah menemukan sampai akhirnya menghitung yang tertinggal.

Untuk mereka yang menyempatkan terlihat ada, semoga selalu bahagia.

DSCF1558DSCF1586DSCF1590

DSCF1652
Sahabat akhirat, insyaAllah.